Sbukie (Sebukar)
Desa Sebukar adalah salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci. Sebab dinamakan sebukar adalah : Dahulu desa ini banyak terdapat semak belukar, maka dinamakanlah Desa Sebakar, oleh karena masyarakat setempat waktu itu sukar untuk mengucapkannya maka semak belukar berubah menjadi Sebukar, namun dalam kehidupan sehari-hari nama Desa Sebukar lebih sering disebut “Sbukie”
Orang yang pertama mendiami desa Sebukar namanya Mangku Bumi. Desa Sebukar dan Desa Pendung Hiang berasal dari satu orang nenek (Mangku Bumi) menurut sejarah Nenek Mangku Bumi meninggal di Sebukar sedangkan Istrinya meninggal di Desa Pendung Hiang.
Desa Sebukar merupakan salah satu desa yang terletak ditengah-tengah Kabupaten Kerinci, jarak Sebukar dengan ibu Kota Kecamatan 2 KM dan jarak dengan ibu kota Kabupaten 9 KM.
Dari 1550 jiwa desa Sebukar 100% memeluk agama islam, dari zaman dahulu sampai sekarang belum ada satu orangpun yang beragama selain Islam, baik penduduk asli maupun pendatang.
Disebelah utara, barat, dan selatan terdapat sawah yang luas, sedangkan sebelah timur terdapat perladangan masyarakat, ditengah-tengah desa dari arah timur kearah barat dan juga dari arah utara kearah selatan dilalui oleh jalan raya yaitu jalan propinsi dan juga di desa sebukar mengalir dua buah anak sungai yang rata-rata mempunyai lebar 2 meter dan kedalaman 2 meter, anak sungai tersebut berasal dari sungai Batang Sangkir di Hiang dan mengalir kedanau kerinci.
Geografis Desa Sebukar:
- Sebelah Utara dengan Hiang ibu kota kecamatan Sitinjau Laut.
- Sebelah selatan dengan desa Semerah.
- Sebelah Barat dengan Pendung Hiang.
- Sebelah Timur dengan kota Iman.
Desa ini pada zaman dahulu merupakan pusat pengajian ilmu agama Islam di Kabupaten Kerinci, banyak ulama-ulama besar Kerinci merupakan tamatan dan alumni dari desa Sebukar, tak heran negeri ini diberi gelar " Negeri berjuta Ilmu" dari desa kecil ini lahir tokoh-tokoh besar dalam bidang Ilmu Fiqh/ agama Islam.
Keadaan sosial masyarakat sebukar yang menonojol di antaranya rasa kekeluargaan yang tinggi masih tertanam pada setiap individu, hal ini dapat dilihat bahwa di masyarakat Sebukar saling bantu membantu dalam kehidupan sehari-hari antara yang satu dengan yang lain dan juga saling mengunjungi, hal ini juga dapat dilihat jika ada warga yang meninggal dunia atau jika ada yang mengadakan acara-acara misalkan acara syukuran, peresmian perkawinan dan acara-acara lainnya, masyarakat Sebukar ikut menolong mempersiapkan acara tersebut dan ikut menghadiri disaat berlangsungnya acara tersebut tanpa pandang bulu.
Sudah merupakan suatu kebiasaan dan bahkan menjadi adat bahwa masyarakat Sebukar suka bergotong royong dan membantu sesama dalam hal yang menyangkut kepentingan masyarakat Desa.
Kebiasaan suka gotong royong dan kerja sama antar masyarakat serta bermusyawarah untuk menuju mufakat masih membudaya dalam masyarakat, ini merupakan suatu faktor penentu untuk mencapai pembangunan pedesaan yang berhasil dengan baik.
Demikian pula halnya dengan program pemerintah tentang sektor pendidikan. Masyarakat Sebukar sangat menyadari betapa pentingnya optimalisasi dalam bidang pendidikan, yang lebih penting lagi adalah pendidikan untuk anak-anak, masyarakat Sebukar merasa bangga bila anaknya sekolah dan merasa rendah diri bila anaknya tidak bersekolah. Telah menjadi istilah ditengah-tengah masyarakat Sebukar yaitu untuk apa harta banyak kalau anak tidak sekolah. Di Sebukar telah tertanam pada individu setiap keluarga bahwa kegunaan mereka bekerja keras membanting tulang adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga untuk membiayai sekolah anak¬anak mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar